Untuk sebuah cintaku yg didekap sakit, ada dua jalur yang selalu kuinginkan. Rindu dan pertemuan.
Sekalipun kutahu rindu semacam hujan yang membuatku bisa menggigil atau bahkan sakit.
Kau ingat sekarang tanggal berapa? 29 juli 2013.
Hari itu, ketika selesai bertengkar denganmu ... banyak hal yang terjadi?
sesekali kamu ingatkah?
Setahun ini. Ya Setahun ini banyak yang mesti saya ingat. Termasuk cara makanmu, cara tidur yang mulai berubah, gaya pakaianmu juga yang mulai berubah, termasuk kalimat-kalimat kita. Saya sebenarnya setengah mati mengingat itu semua karena saya "pelupa".
Kau ingat beberapa janji kita setahun ini? Janji kita untuk selalu bersama, janji untuk tidak pernah mengatakan maaf, dan beberapa janjimu yang sesekali menggelitik ingatanku.
Air mata memang selalu berlabuh setahun ini. Tapi tahukah kau kalau itu mengekalkannya di ingatanku?
Pelupa bukan lagi alasanku untuk tak mengingat.
Berulang kali kucoba membuang dan melupakan tentang kita, tapi percuma. Dia semakin merajai hatiku,bahkan.
Pelupa bukan alasanku untuk lupa akan semua. Saya berusaha untuk tidak lupa dalam banyak hal, termasuk pesan terakhirmu 31 Juli kemarin. Saya sebenarnya akan berusaha untuk terima. Berusaha untuk mengerti. Tapi tidak dengan kata "maaf" yang kau lontarkan dua kali. Saya benci itu.
Saya memang pelupa, tapi saya tidak pernah lupa janji kita.
Saya memang pelupa, tapi saya susah untuk lupa semuanya.
Sabtu, 02 Agustus 2014
Senin, 14 Juli 2014
Untuk sebuah cinta yang datang beriring duka
"Hari-hari berlalu dengan rasaku yang berlabuh semakin jauh", seperti katamu.
Memang akan selalu ada kekakuan. Kita tidak akan pernah seperti dulu. "Jarak yang telah disepakati dulu terbentang sangat-sangat jauh".
Tapi yakinlah, "semua ini yang terbaik". Saya percaya, karena itu katamu, hehehe.
Ya, Saya mengutip kata-katamu lagi, bukan?
Hanya satu yang harus kamu ingat: Janji kita. Saya mengekalkan ini dalam tulisan agar tak kutemui kamu mengucap "lupa" akan janji itu.

"Hari-hari berlalu dengan rasaku yang berlabuh semakin jauh", seperti katamu.
Memang akan selalu ada kekakuan. Kita tidak akan pernah seperti dulu. "Jarak yang telah disepakati dulu terbentang sangat-sangat jauh".
Tapi yakinlah, "semua ini yang terbaik". Saya percaya, karena itu katamu, hehehe.
Ya, Saya mengutip kata-katamu lagi, bukan?
Hanya satu yang harus kamu ingat: Janji kita. Saya mengekalkan ini dalam tulisan agar tak kutemui kamu mengucap "lupa" akan janji itu.
Minggu, 11 Mei 2014
Untukmu yang di sana
.... berdoalah
.... semoga
.... somoga
.... kabulkan Ya Allah
......................................... amin ^_^
teruntuk yang menanti dengan kesetiaan, muak muak :*
Kamis, 01 Mei 2014
Sampai kapan?
Hei, kau yang di sana.
Iya, kamu. siapa lagi?
masih mengingatku kah? Atau jangan-jangan kamu sudah berusaha untuk lupa?
Tidak, tidak. Saya selalu mengingatmu.
Jadi, heeem ... jadi ... kapan kamu kembali? Sebulan, dua bulan, setahun, atau dua tahun lagi? itu cukup? Ya ... kurasa itu cukup. kamu sudah menghilang 2 tahun. kembali, lalu menghilang lagi 4 bulan ini.
Bukankah kau sudah janji akan selalu ada?
Bukankah kau menyayangiku lebih dari orang lain, lalu dari mana kamu mengukurnya?
Hei, tiba-tiba saya ingat sesuatu. Ingat janji 5 tahun? Ini sudah hampir 5 tahun. Bisakah janji itu dipercepat saja?
Atau ... jangan bilang kau lupa.
ah, kenapa orang-orang selalu menjadikan alasan "lupa" untuk hal penting di hidupku?
Iya, kamu. siapa lagi?
masih mengingatku kah? Atau jangan-jangan kamu sudah berusaha untuk lupa?
Tidak, tidak. Saya selalu mengingatmu.
Jadi, heeem ... jadi ... kapan kamu kembali? Sebulan, dua bulan, setahun, atau dua tahun lagi? itu cukup? Ya ... kurasa itu cukup. kamu sudah menghilang 2 tahun. kembali, lalu menghilang lagi 4 bulan ini.
Bukankah kau sudah janji akan selalu ada?
Bukankah kau menyayangiku lebih dari orang lain, lalu dari mana kamu mengukurnya?
Hei, tiba-tiba saya ingat sesuatu. Ingat janji 5 tahun? Ini sudah hampir 5 tahun. Bisakah janji itu dipercepat saja?
Atau ... jangan bilang kau lupa.
ah, kenapa orang-orang selalu menjadikan alasan "lupa" untuk hal penting di hidupku?
Sabtu, 05 April 2014
Hujan

Sejatinya perpisahan memang melahirkan rindu
Sejati apa pun dalam mengokohkan hati. Tetap saja merindu
Sejak hati terpaut,
Sajak berbicara
Se-aku,
Se-kamu
Karena Rindu itu hujan.
Hujan itu, KAMU
Sekarang sedang hujan. Hujan mengetuk atap rumah. mungkin juga hatiku.
Jumat, 28 Maret 2014
Seperempat lusin pertanyaan lucu
Seperempat lusin pertanyaan lucu masih kujinjing. Mungkin membawa dengan cangkir ataukah ember hitam agar tak kentara:
Aku yang terlalu memaknai sebuah kebersamaan
atau
kamu yang begitu cepat menghapus semua, segalanya?
Aku yang selalu pura-pura mencipta jarak
atau
kamu yang memang sudah berlari dariku?
Aku yang masih menyimpan rasa
atau terlalu bodoh?
Aku yang terlalu memaknai sebuah kebersamaan
atau
kamu yang begitu cepat menghapus semua, segalanya?
Aku yang selalu pura-pura mencipta jarak
atau
kamu yang memang sudah berlari dariku?
Aku yang masih menyimpan rasa
atau terlalu bodoh?
Selasa, 04 Maret 2014
Bagaimana memaknai rasa yang ter-eja?
Bagaimana memaknai keadaan?
kau tahu, Rinduku serasa mulai sekarat. Menunggu mungkin adalah diksi yang salah, sebab perasaan selalu di sana dan tidak akan kemana-mana. Ya, tetap di sana ketika tak ada tangan yang terulur.
Bagaimana memaknai masa lalu?
Kau tahu, memori tentangmu bergelayut manja ketika waktu berdinding sunyi. Tidak, jangan katakan aku tidak memiliki seseorang di sampingku,tidak. Ruang kelas begitu ribut, teman sebangku bahkan dengan cerewet berkisah -entah apa itu-. Tapi yang terpikir hanya apa? jangan tanyakan lagi. Ini tentangmu. Maaf kurasa aku memang harus belajar. Tapi bukankah itu membutuhkan waktu?
bagaimana memaknai perasaan?
Kau tahu, setiap kenangan itu berhasil menggeret-geret isi kepalaku. Memaksa dadaku memberi respon yang sama. Sungguh, tak bisa kunamai ini perasaan semacam apa. Yang kutahu, waktu benar-benar sanggup melumatku ke memori itu.
Bagaimana mengurai perasaanku (padamu)?
Biarkan aku menghitung waktu dengan napas yang tersisa
Dengan sembilu yang tertanam
Dengan rasa yang sulit kueja lagi.
Satu kalimat untukmu: Aku akan bermain peran (melupakan dan tidak pernah menunggu) seperti inginmu.
dan satu kata dariku: MAAF.
Langganan:
Komentar (Atom)
+of+ZaaF.jpg)