Bingung dengan situasi.
Merasa ciut dengan semua ini.
Salahkah jika kubiarkan tubuhku bermain peran dalam sketsa?
menyusuri tiap goresan. Tumpang-tindih, berjejal dengan gejolak si empunya.
Entah harus merasakan apa.
haruskah kembali bermain peran?
Haruskah menetap pada keadaan yang membuat terhimpit?
salahkah jika lari dari sketsa awal?
salahkah jika penghayatan si empunya tidak merasup jiwa?
salahkah jika semua yang ada sekarang. Ditinggalkan. Pergi dengan membawa sketsa baru?
Selasa, 04 Maret 2014
Minggu, 02 Maret 2014
(selalu) Terkadang
Terkadang sebuah kepergian selayaknya menyalurkan rindu meretas, tapi masih bisakah ia dikatakan mmeretas ketika kepergian masih menyisakan ruang tunggu yang sesak?
Terkadang memaksa seseorang untuk bertahan itu sesuatu yang konyol, tapi bukankah itu adalah tindakan terakhir di tengah kegamangan?
Terkadang sebuah perubahan itu memang perlu, tapi bisakah waktu berjalan beriringan, membimbing dengan sentuhan?
Terkadang membutuhkan seseorang yang bersedia menopang tubuh kita dan menghapus bulir yang mengalir di pipi, tapi ia terasa jauh.
Terkadang semua terasa tidak adil, tapi berpikir untuk sebuah keadilan harus tertanam juga "kapan saya adil kepada Rabb-Ku? sehingga merasa tidak seadil ini?"
Terkadang memaksa seseorang untuk bertahan itu sesuatu yang konyol, tapi bukankah itu adalah tindakan terakhir di tengah kegamangan?
Terkadang sebuah perubahan itu memang perlu, tapi bisakah waktu berjalan beriringan, membimbing dengan sentuhan?
Terkadang membutuhkan seseorang yang bersedia menopang tubuh kita dan menghapus bulir yang mengalir di pipi, tapi ia terasa jauh.
Terkadang semua terasa tidak adil, tapi berpikir untuk sebuah keadilan harus tertanam juga "kapan saya adil kepada Rabb-Ku? sehingga merasa tidak seadil ini?"
Jumat, 21 Februari 2014
(Akan) jadi bangunan apa?
Awalnya ini perkara mudah. Sangat
mudah malah. Tak pernah sekokoh ini. Kokoh dengan
bangunan yang mulai dirancang seorang arsitektur.
Kau tahu bangunan apa?
Ya,
benar. Bangunan semen. Tapi tahukah kau ide siapa itu?
“Arsitek itu? Hm … sepi,mungkin?”
"Bukan. Tapi dia telah merapal doa yang ....”
"Hahaha ... Heeey. Ini. masih sehari."
Ya. Ini baru beberapa waktu. Tapi sulit rasanya mengeja dalam dentang jam berikut. Jadi beberapa hari lagi? Berapa lama lagi?
Sepertinya kalimatmu semacam doa. "Kau akan merindu,Ndan."
Sepertinya kalimatmu semacam doa. "Kau akan merindu,Ndan."
Kamis, 20 Februari 2014
semilir angin
Kalau saja tahu kan begini. ombak yang pasti menyapu. angin yang selalu pergi.
tapi, biarkan tetap berjalan. setidaknya bisa tahu "beginilah rasa, ketika rasa itu menggapaimu."
Maaf. Maaf untuk sesuatu yang mungkin tak kau pedulikan lagi.
tapi, biarkan tetap berjalan. setidaknya bisa tahu "beginilah rasa, ketika rasa itu menggapaimu."
Maaf. Maaf untuk sesuatu yang mungkin tak kau pedulikan lagi.
Tapi bukan (Dia) Aku
Marah?-mungkin iya. selebihnya tidak.
Marah pada diri sendiri sepertinya.
hanya sedikit sesak.
selebihnya pada luka yang entah tiba-tiba memerah.
mungkin kumpulan darah atau hanya memar
semua: tiba-tiba.
Marah pada diri sendiri sepertinya.
hanya sedikit sesak.
selebihnya pada luka yang entah tiba-tiba memerah.
mungkin kumpulan darah atau hanya memar
semua: tiba-tiba.
Selasa, 04 Februari 2014
Daisy
Bunga Deisi
(Daisy - Bellis Perennis).
Menurut legenda, Deisi berasal dari seorang Peri yang berubah
menjadi bunga liar yang anggun tapi tak menawan agar tak terusik. Orang
Prancis menjuluki bunga ini Mutiara. Marquerite penemu nama bunga Deisi bilang
bahwa dalam bahasa Yunani, Daisy adalah "pearl". Namun orang Inggris
menjulukinya "Day’s Eye", (matanya hari). Karena kelopak bunga Deisi akan
terbuka ketika matahari terbit dan menutup ketika matahari tenggelam.
Bunga Deisi merupakan tumbuhan asli dari Benua
Eropa. Dahulu Deisi biasanya dipakai oleh para Pria untuk meminang/melamar Gadis pujaan hatinya. Setelah cincin
tunangan dilingkarkan ke jari masing-masing maka sang Gadis akan mengenakan
Bunga Deisi sebagai respon "Ya, saya terima". Bunga ini diperkirakan
mencapai 10 persen dari semua tumbuhan berbunga di bumi ini.
Senin, 03 Februari 2014
Tentang cerita dan masa lalu
"Jadi itu mau disamakan dengan orang sebelumnya?"
Tidak. sekali lagi TIDAK.
Mencoba memasuki hidup seseorang tanpa menoleh bahkan mundur ke belakang hanya untuk mencari jejak kaki yang ia tinggalkan.
tapi kurasa itu mustahil.
Ia hadir untukku. juga kelak masa depan. Tapi dia hadir bukan sebagai kakak, atau siapapun.
karena perih itu masih ada.
Aku bukannya mencipta kesunyian. bagiku hidup sekarang akan tetap berjalan tanpa coretan masa lalu. tapi aku sebenarnya takut hidup membelakangi masa lalu. Mengapa? karena aku selalu takut coretan masa lalu berhasil menusukku dari belakang.
Masa lalu yang setiap detiknya membisikkan kalimat di balik punggungku "Jangan terlalu berharap. Kau bisa saja terhempas karena kepakan sayapmu. Jatuhnya akan lebih sakit ketika terlalu tinggi."
Lalu seseorang berucap lagi, "jadi itu mau disamakan dengan orang sekarang?"
"Aku hanya takut. Takut dijadikan pengisi untuk sesuatu yang hadir sementara. Takut terlalu berharap."
Langganan:
Postingan (Atom)
