Rabu, 20 Mei 2015

I won't give up


Well, I won't give up on us.
No, I'm not giving up.
God knows I'm tough, he knows.

I am tough, I am love.
We got a lot to learn.
We're life, we are love.
God knows we're worth it.
And we're worth it.

=================



I don't want to be someone
who walks away so easily
I'm here to stay
and make the difference that I can make
Our differences, they do a lot to teach us,
how to use the tools and gifts we got,

we got a lot at stake
and in the end you're still my friend,R.




Yang kutahu malam ini, Hujan yang kukeluhkan membuatku basah. Ya Basah. Seperti sebelum jarak berbaring rapi di lekukan hidupmu.  

Minggu, 07 Desember 2014

Senyum Sang Murobbiyah

Senja ini, saya menaruh harap dari senyum Murobbiyahku.
Senyum yang entah kadang-kadang kurindui seperti merindui omelan ibu yang menyuruh makan (penj: perhatian).
Dua tahun terakhir, ketika pertama kalinya kudapati senyum itu, ia menuntun menapaki jalan yang kadang berlubang kecil yang membuat kaki tersandung atau malah jatuh tersungkur. Terkadang pula kudapati lubang terlalu besar dan membuat tersungkur jatuh ke dalam.

Dia -Sang Murobbiyah- datang mengulur tangan. Menarikku dengan dua cara. Terang-terangngan dan sembunyi.
Terang-terangan menyentuh tangan dan menarik keluar. Atau hanya bersembunyi seolah tak ingin ikut campur dan membuatku berpikir kritis, mencoba menyederhanakan pikiran.
karena "Hidup itu sederhana ji, Dek," katanya.
Bisa diselesaikan tanpa rumit-rumit kehidupan yang selalu dipermalahkan manusia.

Senja ini, kami mengenang perjalanan dua tahun yang menjadi awal pertemuan.
Bagaimana kocaknya, kekonyolan, dan kebersamaan akhwat.
Diskusi masalah dakwah yang harus terus diperjuangkan.
Dan menyinggung tentang ukhuwah.
Kukatakan padanya LELAH.

"Terkadang kita harus keluar dari sebuah lingkaran / berpisah untuk melihat kekuatan diri-diri ta dan orang-orang di sekeliling ta."
ucapan itu, ya ucapan itu selalu tergiang. Menepuki gendang telingaku.
Ya, perpisahan memang sesederhana itu kalau hati memang menginginkan. Tapi bagaimana kalau tidak?
bagaimana kalau hati tak pernah bisa bersahabat dengan sebuah kenangan?

"Ndan, terkadang kita memang harus tega walaupun hati ta' tidak menginginkan ketegaan itu."

Dengan Senyum itu, adakah pelajaran (tersembunyi) lagi dengan sebuah perpisahan?
Senyum itu, adakah makna lain lagi?
Senyum itu ...
senyum itu

Minggu, 30 November 2014

Everything You Do



And baby when you sleep I watched you breathing
And baby when you dream I dream with you
'Cause everywhere you are is where I wanna be
It's true, everything you do
Makes me know how much I love you

The way you touch my lips right after every kiss
And softly whisper that I'm your everything
The way you pray our love won't die
Every night just before you close your eyes





Everything you do 
Makes me know how much I love you, Rosie :

Sabtu, 02 Agustus 2014

Lupa bukan alasan

Untuk sebuah cintaku yg didekap sakit, ada dua jalur yang selalu kuinginkan. Rindu dan pertemuan.
Sekalipun kutahu rindu semacam hujan yang membuatku bisa menggigil atau bahkan sakit.
Kau ingat sekarang tanggal berapa? 29 juli 2013.
Hari itu, ketika selesai bertengkar denganmu ... banyak hal yang terjadi?
sesekali kamu ingatkah?


Setahun ini. Ya Setahun ini banyak yang mesti saya ingat. Termasuk cara makanmu, cara tidur yang mulai berubah, gaya pakaianmu juga yang mulai berubah, termasuk kalimat-kalimat kita. Saya sebenarnya setengah mati mengingat itu semua karena saya "pelupa".

  
Kau ingat beberapa janji kita setahun ini? Janji kita untuk selalu bersama, janji untuk tidak  pernah mengatakan maaf, dan beberapa janjimu yang sesekali menggelitik ingatanku.
Air mata memang selalu berlabuh setahun ini. Tapi tahukah kau kalau itu mengekalkannya di ingatanku?
Pelupa bukan lagi alasanku untuk tak mengingat.


Berulang kali kucoba membuang dan melupakan tentang kita, tapi percuma. Dia semakin merajai hatiku,bahkan.

Pelupa bukan alasanku untuk lupa akan semua. Saya berusaha untuk tidak lupa dalam banyak hal, termasuk pesan terakhirmu 31 Juli kemarin. Saya sebenarnya akan berusaha untuk terima. Berusaha untuk mengerti. Tapi tidak dengan kata "maaf" yang kau lontarkan dua kali. Saya benci itu.
Saya memang pelupa, tapi saya tidak pernah lupa janji kita.
Saya memang pelupa, tapi saya susah untuk lupa semuanya.

Senin, 14 Juli 2014

Untuk sebuah cinta yang datang beriring duka

"Hari-hari berlalu dengan rasaku yang berlabuh semakin jauh", seperti katamu.
Memang akan selalu ada kekakuan. Kita tidak akan pernah seperti dulu. "Jarak yang telah disepakati dulu terbentang sangat-sangat jauh".
Tapi yakinlah, "semua ini yang terbaik". Saya percaya, karena itu katamu, hehehe.
Ya, Saya mengutip kata-katamu lagi, bukan?

Hanya satu yang harus kamu ingat: Janji kita. Saya mengekalkan ini dalam tulisan agar tak kutemui kamu mengucap "lupa" akan janji itu.